Home » Info & Berita » Mengenal Humbang Hasundutan, Asal Usul Kopi Lintong

Mengenal Humbang Hasundutan, Asal Usul Kopi Lintong

kopi lintong-humbahas

Mungkin ada yang sudah mengenal kopi Lintong dan menikmatinya setiap harinya, namun belum tahu dari mana asal kopi tersebut. Tersebutkan sebuah kabupaten bernama Humbang Hasundutan (Humbahas), yang dulunya masih bagian dari wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara.

Humbahas memiliki lahan perkebunan kopi arabika mencapai 58.118 hektare, sementara kopi robusta hanya 21.680 hektare.
Produksi arabika bisa mencapai 46.000 ton per tahun, sedangkan robusta 8.400 ton per tahun. Humbang Hasundutan (Humbahas) memiliki luas lahan berkisar 7.400-an hektare dengan produksi yang dihasilkan berkisar 5.900-an ton. Luasan tersebut menujukkan bahwa kopi merupakan komoditas yang sangat penting di Humbahas.

Namun, masih diperlukan pembinaan agar produksi kopi dari tahun ke tahun meningkat dan kualitasnya lebih baik. Hal tersebut pula yang menurut Koordinator Program Pemberdayaan Petani Kopi Lintong Humbang Hasundutan dari Orangutan Information Center (OIC), Binur Naibaho sangat penting untuk dilakukan pendampingan bagi para petani.

Hal itu dapat dilihat dari pola pertanian masyarakat yang mengelola lahannya sebagaimana mereka dapatkan secara turun temurun. “Makanya kita di sini menambahkan pengetahuan bagaimana pengelolaan yang lebih tepat, agar produksinya meningkat dan kualitasnya bisa kita jaga,” ungkapnya, seperti diberitakan MedanBisnis.

Sebagai contoh, kata dia, banyak petani yang menanam dengan jarak yang tidak tepat. Ada yang menanam dengan jarak 1×1 meter per segi. Persepsinya, semakin banyak tanamannya, semakin banyak pula produsinya. “Padahal tidak begitu, yang bagus kan 2×3 meter per segi,” katanya.

Dia menilai, banyak pendekatan kepada petani dalam upayanya meningkatkan produksi dan perbaikan kualitas produksi. Yang mana hal tersebut untuk membantu petani yang selama ini sering dililit tengkulak. Sehingga, kata dia, yang juga tak kalah penting adalah membuka pasar baru bagi petani. Kualitas yang terjaga sejak dari hulunya, menjadi jaminan pasar yang lebih luas. “Bulan Oktober tahun ini dan Mei tahun depan, kita akan kenalkan dengan pasar yang sudah menjadi mitra kita, dengan 3 eksportir, misalnya,” katanya.

Nantinya, kata dia, jika selama ini yang dikenal masyarakat pemasaran kopi terbatas pada tengkulak, pasarnya meluas karena eksportir kopi dapat langsung berkomunikasi dengan para petani.

Mengingat dari 12 desa di Kecamatan Pollung dan Doloksanggul terdapat 300 orang, masing-masing petani mengelola mulai dari 0,5 hektare. Dari luasan itu, angka produksi petani tidaklah kecil dan masih dapat ditingkatkan jika ada perbaikan pola tanam dari yang misal, jarak tanamnya dari yang 1×1 meter menjadi 2×3 meter per segi, perlakuan organik, dan seterusnya.

Petani kopi di Desa Lumban Purba, Kecamatan Doloksanggul, Ribka Simamora, mengaku heran dengan produksi kopinya yang masih kecil. “Ada 500 batang saya tanam, produksinya Cuma 3 kaleng, tapi ada juga yang punya 100 batang, bisa 3 kaleng,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Sempurna di Desa Parsingguran, Kecamatan Pollung, Jaruslin Banjarnahor, didampingi bendahara Jinter Banjarnahor dan sekretaris Perdi Sihite mengatakan, untuk di desa ini, pada saat musim panen raya, produksinya bisa mencapai 20 ton per minggu.

Sedangkan pada saat musim trek seperti sekarang ini turun jadi 200 kg per 2 minggu. “Di sini ada 20 pengepul, petani jualnya ke pengepul. Dari pengepul jualnya entah ke mana-mana, ada juga yang mereka langsung datang ke sini,” katanya.